Mengapa Pinjaman Online Adalah Utang yang Buruk

Maraknya inovasi guna mengembangkan dunia finansial yang mengarah untuk Financial Technology (Fintech) ternyata tidak selalu membuat nilai positif. Salah satu buktinya ialah munculnya pinjol atau pinjaman online yang diandalkan bisa memudahkan proses Pinjam Uang. Proses pinjol sendiri sangat gampang dan cepat sebab tidak perlu memakai agunan dan proses survei. Hanya saja sebelum kita usahakan kita tahu dalil mengapa pinjaman online ialah utang yang buruk?

 

1. Terjebak Bunga yang Tinggi

Pinjol menjadi akses layanan finansial yang dapat digunakan seluruh orang, tergolong yang tidak mempunyai akun di bank. Selain tersebut untuk menemukan pinjol memang tidak membutuhkan agunan. Nah, ternyata menurut keterangan dari OJK, berikut yang menciptakan pemakai pinjol dapat terjebak bunga yang tinggi. Layanan pemberi pinjol tetap menyerahkan bunga yang tinggi demi kepentingan bisnis. Mereka melakukan tersebut karena pinjaman tanpa bunga memang mempunyai risiko yang paling tinggi. Jadi betapa lebih arif lagi meninjau jumlah bunga sebelum menemukan pinjaman.

 

2. Hati-hati dengan Pinjol Ilegal

Pada dasarnya lembaga fintech yang menyerahkan layanan pinjol mesti mengikuti peraturan OJK dalam POJK No. 77/POJK.01/2016. Dimana bunga dan batasan denda sudah ditata sesuai dengan batas tertentu. Hanya saja terdapat saja layanan pinjol online yang semakin marak di Indonesia. Hal ini yang bakal menjebak peminjam dengan masalah finansial dimasa depan. Hal yang sangat sering terjadi ialah proses penagihan yang paling kasar andai terlambat menunaikan dan bunga yang paling tinggi.

 

3. Kontak kita Bocor

Akses hubungan dengan layanan pinjol memang sepenuhnya tergantung pada kontak ponsel. Ternyata ada bisa jadi kontak dan privasi kontak bocor ke layanan fintech. Ini paling menakutkan sebab mereka dapat mengakses percakapan dan riwayat pemakain telepon. Masalah ini sangat sering terjadi pada peminjam yang sengaja tidak menunaikan hutang, melarikan diri, mematikan nomor ponsel dan perbuatan tidak baik beda dengan layanan pinjol. Meskipun urusan ini tidak sesuai peraturan OJK tapi telah ada layanan fintech yang mengerjakan pelanggaran ini.

 

4. Bisa Mengakses SMS

Satu hal beda yang mesti dipahami ialah bahwa saat Anda hendak memasang layanan software fintech, maka mereka meminta tidak sedikit akses. Beberapa diantaranya laksana nomor ponsel, deteksi sms (yang akan menyaksikan sms kita dari yang sangat lama), tempat atau map, foto, dan KTP. Ternyata ini menjadi ancaman yang serius, terutama saat Anda telat menunaikan hutang. Peringatan dan tagihan untuk menunaikan hutang bakal ditagih lewat sms dan nomor terpaksa yang tercantum. Tentu saja ini urusan yang mengerikan.

 

5. Ancaman Teror

Jika kita terjebak dengan fintech ilegal maka Anda pun terancam dengan teror yang mengerikan andai terlambat menunaikan hutang. Ancaman ini dapat disampaikan lewat sms, telepon dan bahkan kontak orang terdekat Anda. Ciri dari fintech ilegal ialah alamat perusahaan yang tidak jelas dan menyerahkan pinjaman cepat dan lebih tinggi melulu dengan kriteria KTP saja. Ancaman teror ini menjadi lebih mencekam lagi sebab mereka dapat mengakses seluruh data individu dalam ponsel Anda. Akhirnya perusahaan fintech ini akan memakai data individu untuk mengintimidasi dan mengantarkan ancaman.

 

6. Resiko Ponsel Disadap

Di samping kontak yang bocor ternyata terdapat masalah beda yang lebih besar. Kemungkinan kegiatan ponsel Anda dapat disadap oleh perusahaan fintech atau pihak ketiga yang ditunjuk oleh perusahaan fintech tersebut. Hal ini sangat sering terjadi saat ada peminjam yang tidak dapat mengembalikan dana pinjaman. Akhirnya dengan teknik disadap, mereka dapat melihat kegiatan ponsel. Hal yang lebih merugikan lagi ialah perusahaan fintech dapat menghubungi orang-orang terdekat kita meskipun nomor ponsel mereka tidak dijadikan kontak darurat. Tentu saja bisa jadi data individu di ponsel kita seperti potret dan video pun akan bocor ke perusahaan fintech.

 

7. Ancaman Denda Harian yang Tinggi

Meminjam dana dari fintech juga dapat menjerat kita ditagih bunga yang paling tinggi dan denda harian yang lumayan besar. Dua masalah ini sangat sering terjadi pada pemakai layanan fintech. Denda dan bunga yang besar ini diterapkan saat peminjam terlambat menunaikan hutang atau tidak dapat mengembalikan pinjaman. Masalahnya denda harian yang dapat dikenakan menjangkau Rp 50.000 per hari. Kemudian pun bunga lebih dari 62% dari pinjaman pokok. Risiko ini sangat sering terjadi pada layanan fintech ilegal yang belum menemukan ijin dari OJK.

 

8. Penipuan Dibalik Layanan Cepat

Semua orang yang telah meminjam dana dengan fintech pun terancam terpapar penipuan. Ketika Anda memakai satu software untuk meminjam dana dari fintech maka Anda dapat terjebak masalah yang berat. Keuntungan yang ditawarkan semenjak akan meminjam tidak seimbang dengan akibat buruknya. Misalnya saja terjebak dengan tagihan yang terus menerus, bunga yang lebih banyak dari pinjaman pokok, denda besar yang dihitung masing-masing hari dan masalah lainnya.

 

9. Kehilangan Privasi

Sekali nomor kontak kita masuk dalam software fintech maka seluruh privasi individu Anda dapat bocor ke perusahaan fintech. Mereka dapat menggunakan teknologi untuk menjebol kontak Anda, kontak orang terdekat Anda, foto, lokasi, media yang kita akses, video dan data beda yang mempunyai sifat pribadi. Meskipun ini tergolong pelanggaran tapi tidak sedikit fintech yang mengerjakan praktek tersebut. Sehingga masalah ini dapat menyebabkan desakan mental dan sosial guna Anda. Efeknya pun sangat buruk sebab terus menerus merasa ketakutan.

 

Leave a Comment